Pada Kamis tanggal 31 Juli 2025 pukul 08.30 WIB s/d 11.00 WIB bertempat di Aula Badan Kesbangpol Kabupaten Purwakarta Jl. Veteran No. 153 Kelurahan Nagritenah Kecamatan/Kabupaten Purwakarta dilaksanakan kegiatan Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Kabupaten Purwakarta Tahun Anggaran 2025 bagi Siswa/i SMK Kabupaten Purwakarta dengan Tema *Maju Waspada, Indonesia Tangguh (Meningkatkan Kesadaran Siswa Terhadap Potensi Konflik di Masyarakat)*, selaku penanggungjawab kegiatan Sdr. Drs. H. Mohamad Ramdhan, M.Si (Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Purwakarta) diikuti lebih kurang 50 orang, turut hadir daoam giat ini antara lain : Kompol Dr. H. Iwan Rasiwan, SH, MH (Kabag Ren Polres Purwakarta), Kapten Arm Witopo (Pasi Intel Kodim 0619/Purwakarta), Bambang Widiya Atmoko, SH, MH (Kabid Wasnas Penanganan Konflik Kesbangpol Kabupaten Purwakarta), Rudi Iskandar, S.Pd (Analis Sumber Daya Manusia Disdik Kabupaten Purwakarta), Para Siswa YPK Purwakarta , Para Siswa Bina Taruna Purwakarta, Para Siswa Bhakti Praja Purwakarta.
Sambutan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Purwakarta “ Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya kami di Badan Kesbangpol Kabupaten Purwakarta bersama Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi konflik yang mungkin terjadi di masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Siswa-siswi SMK sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran yang sangat penting. Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks, kalian akan menghadapi berbagai tantangan sosial, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun dunia kerja nantinya. Oleh karena itu, kemampuan mengenali potensi konflik, memahami akar permasalahan, serta menyikapinya dengan bijak dan damai adalah bekal yang sangat penting. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai toleransi, gotong royong, saling menghormati, serta kemampuan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Mari kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan. Kami juga berharap kalian menjadi pelopor di lingkungan sekolah dan masyarakat, menjadi contoh positif dalam menjaga keharmonisan, serta aktif dalam menciptakan suasana yang kondusif dan bebas dari kekerasan, tawuran, maupun intoleransi “ ujar Dadan.
Dalam kesempatan ini Kompol Dr. H. Iwan Rasiwan, SH, MH (Kabag Ren Polres Purwakarta) memberikan paparan materinya “ Dalam negara seberagam Indonesia, konflik sosial dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Dengan lebih dari 17.000 pulau, 1.340 suku, dan 6 agama resmi, keberagaman kita adalah kekuatan sekaligus tantangan. Sebagai generasi penerus bangsa, siswa perlu memahami bahwa kesadaran dini dapat mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan yang merusak tatanan sosial dan persatuan bangsa. Tahun 2024 tercatat lebih dari 150 konflik sosial di berbagai daerah Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Jumlah ini menunjukkan bahwa potensi konflik masih menjadi ancaman nyata bagi kerukunan masyarakat. Penyebab utama Konflik berbasis SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) masih menjadi penyebab dominan dari berbagai konflik sosial yang terjadi. Keberagaman yang seharusnya menjadi kekuatan justru sering disalahgunakan. Dampak luas Ribuan orang terdampak secara langsung maupun tidak langsung dari konflik-konflik tersebut. Kerugian material mencapai miliaran rupiah, belum termasuk trauma psikologis dan perpecahan sosial jangka Panjang. Polri memiliki sekitar 280.000 personel yang tersebar di seluruh Indonesia pada tahun 2025. Jumlah ini masih belum ideal untuk negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, dengan rasio 1:964 (standar ideal PBB 1:400). Hambatan Keterbatasan personel dan anggaran di daerah terpencil, Isu korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang masih terjadi dan Tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Peran Generasi Muda dalam Mencegah Konflik Pemuda Indonesia, yang berjumlah sekitar 63 juta jiwa, memiliki energi dan idealisme untuk mendorong perubahan positif dalam Masyarakat, Gerakan Masohi Militancy di Maluku menjadi contoh nyata bagaimana pemuda dapat berperan aktif melawan radikalisme dan ekstremisme dan Pembangunan, Pelayanan, Penyadaran, Pemberdayaan, dan Pengembangan menjadi lima pilar utama keterlibatan pemuda dalam mencegah konflik “ papar Iwan.
Kapten Arm Witopo (Pasi Intel Kodim 0619/Purwakarta) turut memberikan paparan materinya yaitu “ Penyebab Konflik perbedaan kepentingan, nilai & keyakinan perbedaan kepentingan antar individu/pok, baik dlm bidg ekonomi, politik maupun sosial dapat mjd pemicu konflik, ketidaksetaraan sosial dan ekonomi kesenjangan sosial yg signifikan antara pok masy, spt perbedaan tingkat kesejahteraan & akses thd sumber daya, dapat menciptakan rasa ketidakadilan & memicu konflik, perubahan sosial yang cepat perubahan sosial yg tjd scr cepat & mendadak, terutama akibat globalisasi & modernisasi, dapat menimbulkan ketidakpastian & ketegangan dlm Masyarakat, stereotip dan prasangka adanya stereotip negatif dan prasangka terhadap kelompok lain dapat memperburuk hubungan antar kelompok dan memicu konflik dan kurangnya komunikasi dan pemahaman kurangnya komunikasi yang efektif dan pemahaman antar kelompok dapat memperburuk perbedaan dan memicu konflik. Bentuk Konflik antara lain konflik pribadi, konflik politik, konflik rasial, konflik antarkelas social, konflik agama, konflik internasional, konflik horizontal dan konflik vertical. Dampak negative perpecahan & disintegrasi sosial, kerusakan fisik & ekonomi, gangguan psikologis, perubahan kepribadian, gangguan perekonomian. Dampak positif perubahan sosial, solidaritas kelompok, pemicu kreativitas & inovasi dan penyelesaian masalah. Yang Harus dilakukan identifikasi masalah langkah pertama adl memahami akar permasalahan yg menyebabkan konflik, bisa melibatkan pengumpulan informasi, wawancara atau diskusi dgn pihak yg terlibat, Komunikasi yg baik membuka saluran komunikasi yg efektif antara pihak yg berkonflik sangat penting, ini memungkinkan mereka utk saling menyampaikan pandangan, keluhan & mencari solusi Bersama, Mediasi melibatkan pihak ketiga yg netral (mediator) utk membantu para pihak yg berkonflik mencapai kesepakatan, mediator membantu fasilitasi komunikasi & negosiasi, tetapi tdk memaksakan Solusi “ kata Witopo.





